
Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera (Jentera) resmi akan melanjutkan program kerja sama pengadaan beasiswa hukum bisnis bersama PT Moya Indonesia, kini dengan pendekatan baru. Hal ini disepakati setelah kedua institusi melakukan rapat evaluasi pelaksanaan program dan penyusunan strategi ke depan pada Senin (9/2) lalu.
Di dalam pendekatan yang baru, program beasiswa hukum bisnis kali ini tidak lagi didesain sebagai skema ikatan dinas jangka panjang seperti tahun sebelumnya, melainkan sebagai jalur percepatan karier (career accelerator) di bidang hukum bisnis.
“Sebagai career accelerator, program tahun ini akan dirancang sebagai program yang unggul dan memberikan dampak bagi masyarakat dan lingkungan, dengan penekanan pada eksposur langsung terhadap kasus bisnis nyata, mentoring intensif oleh pengacara dan praktisi hukum bisnis senior, serta akses ke jejaring profesional dan industri strategis,” kata Ariwijaya, Kepala Pengembangan Bisnis STHI Jentera.
Selain itu, program beasiswa hukum kali ini juga akan lebih fleksibel dan ramah bagi preferensi karier generasi muda. Durasi kewajiban kerja akan disesuaikan ulang agar tidak terlalu panjang dan lebih proporsional. Tahapan seleksi juga akan disederhanakan, dengan mengurangi duplikasi tes, dan pemilihan syarat administratif yang lebih ringan.
“Kami setuju dengan rebranding menjadi career acceleration, karena memberi nilai jual yang lebih kuat,” kata Nofal, Perwakilan PT Moya Indonesia yang hadir dan menyatakan dukungannya terhadap pendekatan baru tersebut.
Ia juga menekankan pentingnya penguatan identitas Moya di dalam setiap produk komunikasi publik. Selain itu, narasi program juga perlu menjelaskan secara lebih spesifik bidang hukum bisnis apa saja yang nantinya bisa dieksplorasi oleh mahasiswa/i. “Misalnya ketenagakerjaan, perizinan, hingga kerja sama pemerintah di bidang perairan,” katanya.
Triana dari Kemahasiswaan STHI Jentera juga menyarankan agar ambang nilai akademik pendaftar beasiswa dibuat lebih inklusif. “Nilai rata-rata ijazah bisa diturunkan menjadi 7, dan pendaftar dari SMA maupun SMK tetap bisa mendaftar,” ujarnya.
Ariwijaya kembali menambahkan bahwa para pendaftar beasiswa juga bisa diarahkan untuk memperjelas minat studinya di dalam personal statement mereka. Untuk meningkatkan daya tarik program, ia juga menyarankan adanya sharing session tentang program beasiswa serta dokumentasi testimoni karyawan PT Moya Indonesia.
Semua strategi baru tersebut disepakati mengingat pelaksanaan program tahun sebelumnya sama sekali belum menghasilkan penerima beasiswa. Dari 18 pendaftar, hanya empat yang memenuhi kelengkapan administrasi dan mengikuti seluruh tahapan seleksi hingga tes tertulis, wawancara, dan psikotes. Pada tahap akhir, tidak ada kandidat yang melanjutkan sebagai penerima beasiswa.
Kondisi tersebut ditengarai karena durasi ikatan dinas yang dinilai terlalu panjang, tahapan seleksi yang terlalu berlapis, dan pembatasan minat studi hukum bisnis yang terlalu sempit. Sistem ini dinilai belum ramah bagi calon mahasiswa/i generasi muda yang cenderung mencari otonomi dan eksplorasi karier. Karenanya, setelah diperbarui, program beasiswa hukum bisnis ini harapannya bisa lebih responsif dan menarik lebih banyak calon mahasiswa/i berikutnya.
Dengan dilanjutkan dan diperbaruinya kerjasama ini, Jentera dan PT Moya Indonesia menegaskan komitmen bersama dalam membangun ekosistem pendidikan hukum yang terintegrasi dengan kebutuhan industri. Langkah ini sekaligus merupakan pendekatan kolaboratif antara institusi pendidikan tinggi dan sektor swasta dalam menyiapkan talenta hukum bisnis yang kompeten, adaptif, dan memiliki orientasi profesional jangka panjang.