Kabar

Sesi Psikologi di STHI Jentera: Pengelolaan Diri

Posted by on 22/02/2017 in Kabar, Kuliah Tamu

Apa saja yang berubah dari kehidupan Anda sebelum dan sesudah kuliah? Pertanyaan itu menjadi pemantik diskusi dalam sesi psikologi bagi mahasiswa Semester 2 STHI Jentera pada Rabu, 22 Februari 2017. Mahasiswa menjawab bergantian, kemudian Eko Handayani, M.Psi sebagai fasilitator mengkategorikan jawaban mahasiswa. Ada empat hal besar, yaitu pengetahuan, tempat tinggal, pertemanan, dan kota.

Perubahan besar yang dialami berpengaruh terhadap kinerja dalam menjalani peran sebagai mahasiswa. Mereka punya pengetahuan yang lebih banyak dengan tingkat kesulitan yang berbeda. Sebagian besar dari mahasiswa pun mulai tinggal terpisah dari keluarganya sehingga perlu beradaptasi dengan cara tinggal sendiri, termasuk menyiapkan makanan sendiri. Mereka juga mengalami cara pertemanan yang berbeda, melihat orang-orang dengan latar belakang yang berbeda pula. Apalagi, sebagian dari mahasiswa juga harus pindah ke Jakarta demi kuliah. Ketika mengungkapkannya, mahasiswa menjadi tahu bahwa setiap orang punya tantangan masing-masing dalam kehidupannya. Kadang, timbul pula tuntutan terhadap lingkungan. Namun, kalau lingkungan tidak bisa memberikannya, perlu ada strategi yang diambil.

Eko Handayani kemudian menampilkan satu video lomba renang yang dijadikan sebagai bahan refleksi lain. Melalui video itu, ia mengungkapkan bahwa setiap orang punya tujuan yang sama—dalam hal ini, misalnya lulus menjadi sarjana hukum dari STHI Jentera. Akan tetapi, setiap orang punya gaya yang berbeda dalam mencapai tujuannya. Walaupun akan ada masa seperti di persimpangan, itulah saatnya untuk mengingat kembali tujuan awal dari semua ini. Salah satu strategi untuk bertahan adalah pengelolaan diri.

Pengelolaan diri merupakan gabungan dari manajemen waktu dan manajemen stres. Setiap orang perlu menuliskan ulang apa saja yang perlu dilakukannya, kemudian membaginya dalam matriks seberapa penting dan mendesak. Hal-hal yang masuk dalam kategori penting perlu didahulukan. Kalau tidak dilakukan, ia akan masuk dalam kategori mendesak. Itulah yang bisa menjadi pemicu stres; banyak hal masuk dalam kategori penting dan mendesak. Maka itu, pembuatan matriks mengenai apa-apa saja yang perlu dilakukan sebagai prioritas penting dilakukan.(APH)

Kabar

Call For Paper Jentera: Jurnal Hukum Edisi Vol. 4 No. 2 (2021)

Jentera bertujuan memfasilitasi dan mendorong pembaruan hukum dan kebijakan di Indonesia, mempublikasikan kajian-kajian bidang hukum […]

Mahasiswa Jentera Terpilih Mengikuti IISMA 2021 di Michigan State University

Mahasiswa Jentera Angkatan IV, Aisyah Assyifa terpilih menjadi salah satu peserta Indonesian International Student Mobility […]

Pengajar Jentera Menjadi Ahli dalam Gugatan Tata Usaha Negara ke Kepala BNN

Pengajar Sekolah Tinggi Hukum (STH) Indonesia Jentera, Anugerah Rizki Akbari, menjadi ahli dalam sidang yang […]

Berbisnis di Tengah Kekacauan Hukum: Legalisme Iliberal di Indonesia

Berbisnis di tengah kekacauan hukum: Legalisme iliberal di Indonesia merupakan penelitian yang berangkat dari situasi […]

Perlunya Reformasi Sistem Peradilan Pidana untuk Mengatasi Overcrowding Lapas

Beberapa saat yang lalu kita dikejutkan oleh pemberitaan mengenai kebakaran di Lapas Kelas 1 Tangerang […]

Tantangan Tata Kelola Pemerintahahan Daerah di Masa Pandemi

  Selama satu setengah tahun terakhir, banyak pemerintah daerah yang harus bekerja lebih keras dalam […]

Jentera Sambut Mahasiswa Baru dengan Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus

STH Indonesia Jentera menyelenggarakan Orientasi Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2021/2020 pada 13-15 September 2021 secara […]

Orasi Ilmiah: Quo Vadis Kebebasan Akademik dan Tanggung Jawab Intelektual

Kebebasan berpikir, kebebasan akademik, dan kebebasan berpendapat merupakan hak universal dan penanda utama eksistensi kaum […]