Kabar

Kelas Inspirasi The Popo: Seni di Ruang Publik

Posted by on 11/11/2016 in Kabar, Kelas Inspirasi

“Saya hadir bukan sebagai seniman, tetapi sebagai warga yang juga punya concern.” Menempatkan diri sebagai warga, berbicara dengan warga sekitar merupakan cara Riyan Riyadi untuk merespons ruang publik. Ia adalah seorang seniman visual yang biasa dikenal dengan karakternya, The Popo. Ia berbagi pengalamannya terkait pembuatan karya visualnya pada Kelas Inspirasi di STH Indonesia Jentera.

Riyan menegaskan bahwa kedatangannya di suatu tempat untuk membuat karya tidak serta-merta berarti ingin mengubah lingkungan. Ia hanya ingin memberikan identitas warga sekitar di ruang publik.  Salah satu contoh yang diceritakan pada Selasa, 8 November 2016 adalah pembuatan mural di Asemka dalam rangka Jakarta Biennale 2013. Di dalam muralnya, tertera teks, “Hidup adalah mainan.” Memang, Asemka sering kali terasosiasi dengan pusat mainan. Pada kesempatan itu, ia berbincang dengan salah satu pedagang mainan. Orang itu bercerita bahwa dia hanya tahu mainan saja dan sudah menjual mainan perahu klotok selama 15 tahun. Di situlah, Riyan memutuskan untuk menuliskan teks yang menggambarkan keadaan di sekitar. Alhasil, karyanya berupa mural—yang tentunya juga memuat karakter The Popo—bertahan di tempat itu selama 3 tahun. Konon, orang-orang sekitar menolak mural itu dicat ulang.

Beda lagi ceritanya ketika Riyan berkarya di salah satu “perumahan teletubbies” di Sleman, Yogyakarta. Perumahan itu mempunyai bentuk yang sama tanpa nomor rumah. Maka itu, beberapa kali terjadi penduduk setempat masuk ke rumah yang salah. Merespons kejadian itu, Riyan membuat mural di dinding rumah dengan merepresentasikan identitas pemilik rumahnya, misalnya The Popo yang sedang membawa buah-buahan bagi rumah pekebun buah. Sejak itu, pemilik rumah nyaris tidak pulang ke rumah yang salah lagi. Mural Riyan di tembok rumahnya menjadi identitasnya.

Tembok bukan menjadi satu-satunya media berkarya Riyan. Selain juga membuahkan karya digital, ia pernah juga membuat karya di mangkuk. Itu pun berangkat dari pengalaman pribadinya yang selalu menemukan “mangkok ayam” di pedagang kaki lima. Menurutnya, menceritakan kembali pengalaman orang menjadi titik berat karya-karyanya. Maka itu, karya yang dibuat cenderung menyuarakan pengalamannya atau orang lain sebagai warga.

Penulis:APH

Kabar

Pengajar Jentera Menjadi Ahli dalam Sidang Uji Materiil UU Minerba

Ketua Bidang Studi Hukum Pidana Sekolah Tinggi Hukum (STH) Indonesia Jentera, Anugerah Rizki Akbari, memberikan […]

OPIUM Jentera: Peluang Penerapan Prinsip-Prinsip Plea Bargain dalam Rancangan KUHAP

Guna memfasilitasi masukan yang menganggap Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) sudah tidak relevan dengan […]

Peluang Penerapan Prinsip-Prinsip Plea Bargain dalam Rancangan KUHAP

Saat diundangkan, Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) dinilai sebagai karya agung bangsa Indonesia, mengandung […]

Napak Tilas Jejak Cak Munir dalam Perjuangan Buruh

Munir, buruh, dan pekerja migran adalah ikon yang saling berikat kuat satu sama lain. Pada […]

RUU Hukum Acara Perdata dan Arah Reformasi Eksekusi Perdata

Pemerintah melalui instrumen perencanaan pembangunan nasional sudah menyinggung reformasi hukum perdata dan hukum acara perdata. […]

Peran Penting Bahasa dalam Pembentukan Hukum dan Kebijakan

Bidang Studi Dasar-dasar Ilmu Hukum STH Indonesia Jentera bersama Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia […]

Prinsip Pemidanaan dalam Rancangan KUHP

Pengajar Jentera, Anugerah Rizki Akbari dan Rifqi S. Assegaf menjadi narasumber dalam diskusi bertajuk “Sentencing Principles […]

Mahasiswa Jentera Terbitkan Podcast Suara Jentera

Mahasiswa Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera mata kuliah Kewarganegaraan tahun 2021/2022 mengerjakan proyek kelompok dengan […]