Kabar

Pesta Pendidikan: Hoaks dan Kebijakan Literasi Lintas Ilmu

Posted by on 02/03/2017 in Kabar, Kegiatan

2017 merupakan kali kedua Pesta Pendidikan (PEKAN) diselenggarakan setelah tahun sebelumnya sukses di Jakarta. Tahun ini, Bandung, Makassar, Yogyakarta, dan Ambon menjadi venue PEKAN yang akan ditutup di Jakarta pada Mei nanti. Memulai rangkaiannya di Bandung, Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera (STH Indonesia Jentera) bekerja sama dengan Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK) menggelar diskusi dengan tajuk “Beranda PSPK: Hoax dan Kebijakan Literasi Lintas Ilmu” sebagai satu rangkaian acara PEKAN di Bandung pada Sabtu, 25 Februari 2017.

Talkshow dibuka oleh Ridwan Kamil (Walikota Bandung), ia menyampaikan tentang pentingnya budaya membaca untuk menghindari terjadinya salah informasi dan penyebaran informasi yang salah. Ia juga menekankan pentingnya peran keluarga dalam berbagi informasi dan kontrol terhadap hoaks.

Setelah itu, Prof. Furqon memberikan pemaparannya. Ia membahas tentang hasil riset terhadap minat baca dan dampaknya terhadap kemampuan akademik anak-anak di Indonesia yang juga rendah dalam berbagai skala dan ranking. Ia juga memaparkan upaya instansi pendidikan yang dipimpinnya (UPI) dalam membantu menaikkan budaya literasi masyarakat Indonesia, khususnya Provinsi Jawa Barat melaui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan Program Pengabdian Masyarakat.

Menyambung Prof. Furqon. Roby Muhammad menjelaskan rendahnya budaya literasi dan maraknya penyebaran hoaks dari segi psikologi dan sosiologi. Ia memaparkan salah satu alasan dari mudahnya penyebaran hoaks di Indonesia didukung oleh faktor literasi yang masih rendah di Indonesia. Rendahnya budaya literasi menyebabkan masyarakat mudah terpancing terhadap isu-isu yang belum valid kebenarannya. Kemudian, ia menjelaskan bahwa hoaks sangat mudah tersebar karena memiliki karakteristik khusus yang mudah memancing orang untuk menyebarkannya. Hoaks bersifat provokatif dan menggugah emosi manusia ditambah dengan rendahnya budaya literasi untuk melakukan cek silang membuat hoaks sangat mudah tersebar. Jadi, ia menyimpulkan bahwa kita harus mampu menjaga diri dengan lebih sering melakukan cek silang atas informasi yang diterima, kemudian harus mampu menilai apakah suatu informasi layak disebar meskipun sudah tervalidasi kebenarannya.

Kemudian, Peneliti Pusat Studi Hukum dan Kebijakan (PSHK) dan Pengajar Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera (STH Indonesia Jentera), Miko Susanto Ginting, menjelaskan fenomena hoaks dari sudut pandang hukum pidana. Ia menjelaskan peraturan-peraturan yang mengatur tentang hukum pelaku penyebaran hoaks. Tidak hanya itu, ia juga menjelaskan definisi hoaks yang diatur dalam undang-undang dan macamnya. Di akhir pemaparan, ia menjelaskan posisi hukum pidana dalam fenomena hoaks sejatinya harus dipahami sebagai pintu terakhir. Hukum pidana hanya menghukum pelaku, sedangkan dampak dari hoaks sendiri sudah tersebar luas. Menurutnya, sebelum berbicara tentang hukuman untuk pelaku, kita perlu memperkuat tindakan preventif dengan mengedukasi keluarga dan lingkungan sekitar agar tidak terlibat dalam penyebaran informasi hoaks.

Pembicara terakhir adalah Dr. Elih Sudiapermana, Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung. Ia menjelaskan tentang strategi Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung dalam meningkatkan budaya literasi. Selain fokus pada pendidikan formal, Pemkot Bandung juga gencar untuk membangun perpustakaan di setiap kelurahan agar dapat dimanfaatkan oleh warga Bandung untuk membaca dan bersantai bersama keluarga. Selain itu, upaya kerjasama dengan berbagai kampus di Bandung juga dipaparkan agar program KKN tidak hanya dilaksakan di luar Bandung atau bahkan di luar provinsi. Bandung sendiri masih membutuhkan pendampingan program pendidikan, khususnya peningkatan budaya literasi melalui KKN mahasiswa.

Di akhir acara, antusiasme peserta dapat dilihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan kepada narasumber. Bahkan, di antaranya banyak yang bertanya terkait dengan profesinya, seperti guru, kepala sekolah, siswa, dan mahasiswa.

 

Penulis: DMI

Editor: APH

Kabar

Mahasiswa Jentera Terpilih Mengikuti IISMA 2021 di Michigan State University

Mahasiswa Jentera Angkatan IV, Aisyah Assyifa terpilih menjadi salah satu peserta Indonesian International Student Mobility […]

Pengajar Jentera Menjadi Ahli dalam Gugatan Tata Usaha Negara ke Kepala BNN

Pengajar Sekolah Tinggi Hukum (STH) Indonesia Jentera, Anugerah Rizki Akbari, menjadi ahli dalam sidang yang […]

Berbisnis di Tengah Kekacauan Hukum: Legalisme Iliberal di Indonesia

Berbisnis di tengah kekacauan hukum: Legalisme iliberal di Indonesia merupakan penelitian yang berangkat dari situasi […]

Perlunya Reformasi Sistem Peradilan Pidana untuk Mengatasi Overcrowding Lapas

Beberapa saat yang lalu kita dikejutkan oleh pemberitaan mengenai kebakaran di Lapas Kelas 1 Tangerang […]

Tantangan Tata Kelola Pemerintahahan Daerah di Masa Pandemi

  Selama satu setengah tahun terakhir, banyak pemerintah daerah yang harus bekerja lebih keras dalam […]

Jentera Sambut Mahasiswa Baru dengan Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus

STH Indonesia Jentera menyelenggarakan Orientasi Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2021/2020 pada 13-15 September 2021 secara […]

Orasi Ilmiah: Quo Vadis Kebebasan Akademik dan Tanggung Jawab Intelektual

Kebebasan berpikir, kebebasan akademik, dan kebebasan berpendapat merupakan hak universal dan penanda utama eksistensi kaum […]

Sambutan Ketua Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera dalam Wisuda Sarjana Ketiga dan Penerimaan Mahasiswa Baru Jentera Tahun 2021

Para Guru Besar, Pengajar, Sivitas Akademika dan Pimpinan, dan Anggota Senat Sekolah Tinggi Hukum Indonesia […]