Kabar

Perebutan Ruang Hidup

Posted by on 20/09/2016 in Kabar, Kegiatan

Perebutan ruang terjadi melalui peraturan-peraturan yang menaunginya, mulai dari tingkat Undang-Undang, Peraturan Daerah, Peraturan Pemerintah, hingga Keputusan Gubernur. Begitulah Vera Soekamvi memulai diskusinya bersama mahasiswa Semester 1 untuk membuka mata kuliah Hukum dalam Masyarakat. Setelah memberikan gambaran umum tentang tarik-menarik ruang, ia menceritakan pengalamannya yang turun langsung membantu warga dalam kasus penggusuran di Kampung Pulo dan Bukit Duri.

Persoalan ganti rugi penggusuran bukan berarti kemewahan yang didapat oleh warga, melainkan itu adalah hak mereka. Maka itu, ganti rugi harus sangat layak bagi warga karena penggusuran bisa dikatakan juga memindahkan kehidupan mereka. Vera menceritakan pengalamannya, “Situasi warga semakin dipersulit karena saat ini, kepemilikan tanah tidak boleh komunal; warga tidak boleh punya hak milik, hanya punya hak sewa yang berlaku dua tahun.” Peraturan yang berlaku seringnya meminggirkan warga yang tidak punya banyak akses terhadap keadilan.

“Legal tetapi tidak terlegitimasi,” Eko Cahyono dari Sajogyo Institute langsung menyambung diskusi dengan tema perebutan ruang hidup yang perlu peka imajinasi spasial. Hukum formal bukan berarti menjamin keadilan sosial. Ada pertarungan politik di dalamnya yang jauh lebih kental. Ada tiga paradigma politik sumber daya alam, yaitu konservasionistik, developmentalistik yang melihatnya sebagai faktor ekonomi, dan eko-populis yang melihatnya sebagai satu-kesatuan.

Perlu diperhatikan dasar pandangnya, yaitu pertama, tanah dan sumber-sumber agraria bukan sepenuhnya barang dagangan; kedua, hubungan manusia dengan tanah dan sumber daya alamnya bersifat kompleks dan berlapis; ketiga, masalah-masalah agraria bersifat historis. Menurut Eko pada Senin, 19 September 2016 di Kampus Jentera, perlu ada penegasan duduk perkara terkait persoalan agraria.

Teori di kelas memang penting, tapi pengalaman akan membuatnya semakin membekas. Maka itu, setelah kuliah perdana ini, mahasiswa mendapat tugas untuk turun lapangan ke Bukit Duri dan Kampung Pulo untuk berkenalan langsung dengan warga dan melihat situasi di sana. Mereka akan mempresentasikannya pada pertemuan mata kuliah Hukum dalam Masyarakat selanjutnya.

Penulis: APH

Kabar

Call For Paper Jentera: Jurnal Hukum Edisi Vol. 4 No. 2 (2021)

Jentera bertujuan memfasilitasi dan mendorong pembaruan hukum dan kebijakan di Indonesia, mempublikasikan kajian-kajian bidang hukum […]

Mahasiswa Jentera Terpilih Mengikuti IISMA 2021 di Michigan State University

Mahasiswa Jentera Angkatan IV, Aisyah Assyifa terpilih menjadi salah satu peserta Indonesian International Student Mobility […]

Pengajar Jentera Menjadi Ahli dalam Gugatan Tata Usaha Negara ke Kepala BNN

Pengajar Sekolah Tinggi Hukum (STH) Indonesia Jentera, Anugerah Rizki Akbari, menjadi ahli dalam sidang yang […]

Berbisnis di Tengah Kekacauan Hukum: Legalisme Iliberal di Indonesia

Berbisnis di tengah kekacauan hukum: Legalisme iliberal di Indonesia merupakan penelitian yang berangkat dari situasi […]

Perlunya Reformasi Sistem Peradilan Pidana untuk Mengatasi Overcrowding Lapas

Beberapa saat yang lalu kita dikejutkan oleh pemberitaan mengenai kebakaran di Lapas Kelas 1 Tangerang […]

Tantangan Tata Kelola Pemerintahahan Daerah di Masa Pandemi

  Selama satu setengah tahun terakhir, banyak pemerintah daerah yang harus bekerja lebih keras dalam […]

Jentera Sambut Mahasiswa Baru dengan Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus

STH Indonesia Jentera menyelenggarakan Orientasi Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2021/2020 pada 13-15 September 2021 secara […]

Orasi Ilmiah: Quo Vadis Kebebasan Akademik dan Tanggung Jawab Intelektual

Kebebasan berpikir, kebebasan akademik, dan kebebasan berpendapat merupakan hak universal dan penanda utama eksistensi kaum […]