Kabar

Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental bagi Anak Muda

Posted by on 28/01/2021 in Kabar, Kegiatan

Kesehatan mental kerap diabaikan dibandingkan dengan kesehatan fisik. Padahal berdasarkan  sebuah studi dari Universitas Udayana menemukan bahwa 4,75% dari sampel remaja usia 13-18 tahun di seluruh Indonesia pernah berpikiran bunuh diri setidaknya sekali dalam setahun terakhir.

Menurut psikolog mitra Yayasan Pulih, Maria Puspita kesehatan mental seseorang dapat dipengaruhi berbagai hal seperti kondisi biologis, sosial ekonomi, dan lingkungan.  Misalnya dalam situasi pandemi seperti saat ini, anak muda menghadapi beragam tantangan seperti pembelajaran jarak jauh, kebijakan social/physical distancing yang tengah berlaku, kondisi ekonomi keluarga yang kemungkinan besar memburuk, serta kondisi rumah yang belum dapat menjadi lingkungan yang nyaman dan aman. Kondisi itu dapat memberikan dampak pada kesehatan mental seperti kecemasan, kesepian, depresi, berduka, hingga perilaku beresiko.

Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan kunjungan #JenteraMenyapa ke SMA IT Ummul Quro pada Jumat (22/1/2021) dan SMAS II Kemurnian Jakarta pada (25/1/2021) secara daring.

Untuk menjaga kesehatan mental, Maria menjelaskan pentingnya sikap resiliensi yakni proses untuk beradaptasi dalam menghadapi kesulitan, trauma, tragedi, ancaman atau sumber stres lainnya yang signifikan. Dengan sikap tersebut, sesorang akan mampu bangkit kembali dan dapat mengatasi kesulitan secara efektif; lentur tetapi tidak patah di bawah tekanan ekstrim; menangani kesulitan, bertahan, dan beradaptasi bahkan ketika ada yang salah atau tidak berjalan sebagaimana mestinya; serta membuat individu menjadi tidak terlalu rentan terhadap stres dan mempersiapkan diri untuk tantangan masa depan.

Untuk mengatasi berbagai problem kesehatan mental, Maria mengingatkan untuk tidak mendiagnosa kondisi mental diri sendiri.  Konseling diperlukan jika masalah dirasa tidak dapat diselesaikan, kehidupan sehari-hari sudah terganggu, perlu opini objektif dari pakar terkait permasalahan yang dihadapi, dan tidak ada dukungan dari orang lain atau tidak dapat menarik diri dari lingkungan.

Pengajar STH Indonesia Jentera, Estu Dyah Arifianti dalam kunjungan daring di SMAS II Kemurnian juga menjelaskan mengenai hukum dan keberagaman kondisi mental. Menurut Estu, keberagaman kondisi fisik dan mental tidak menghalangi akses seseorang terhadap hak-haknya, termasuk hak atas pendidikan maupun hak atas pekerjaan. Namun kenyataannya, persyaratan mendaftarkan diri ke perguruan tinggi atau melamar pekerjaan sering mewajibkan pendaftar “sehat jasmani dan rohani” yang sering diartikan tidak dalam kondisi disabilitas fisik maupun mental.

Lebih lanjut, Estu menuturkan lingkungan akademik dapat terlibat menjaga kesehatan mental dengan menciptakan akses dan akomodasi. Caranya adalah dengan mewujudkan lingkungan yang aman bagi guru, siswa, dan karyawan sekolah untuk mendorong inklusivitas yang memahami perbedaan fisik, mental, status sosial, suku, agama, dan konstruksi sosial lain.

Lalu, sekolah dapat mengambil langkah – langkah untuk menjaga kondisi mental dengan mengoptimalkan layanan konseling yang dimiliki, termasuk bekerjasama dengan institusi penyedia layanan kesehatan.

Melihat hal tersebut, sejak 2020 Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera menyepakati nota kesepahaman dengan Yayasan Pulih terkait program pendampingan kesehatan mental bagi mahasiswa Jentera. Dengan kerja sama tersebut, mahasiswa Jentera diharapkan bisa memiliki saluran alternatif untuk membagi perasaannya sebelum terlanjur menjadi parah dan mengganggu kesehatan mental.

Kabar

Pengajar Jentera Kritik Putusan Pengujian UU KPK

Pengajar Sekolah Tinggi Hukum (STH) Indonesia Jentera, Bivitri Susanti, menjadi salah satu narasumber dalam webinar […]

MK Dinilai Tidak Menggali Kebenaran dalam Putusan Pengujian UU KPK

Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera menyelenggarakan Diskusi Konstitusi dan Legisprudensi (DIKSI) bertajuk “Menyibak Putusan MK […]

Perkembangan Karir Pekerja Informasi Hukum

Perpustakaan Hukum Daniel S. Lev bekerja sama dengan Asosiasi Pekerja Hukum Indonesia (APIHI) menyelenggarakan Law […]

Ketua Jentera Resmi Melantik Ketua dan Wakil Ketua BEM serta Ketua BPM STH Indonesia Jentera 2021-2022

Pengurus baru Badan Eksekutif Mahasiswa dan Badan Perwakilan Mahasiswa STH Indonesia Jentera 2021-2022 dilantik secara […]

Jentera bersama OJK Menyelenggarakan Pelatihan Analisis Permasalahan Hukum Sektor Jasa Keuangan

STH Indonesia Jentera bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia (OJK) menyelenggarakan pelatihan bertajuk […]

Proyeksi Desain Kelembagaan Penuntutan dalam Sistem Peradilan Pidana Indonesia

Sekolah Tinggi Hukum (STH) Indonesia Jentera menyelenggarakan diskusi Obrolan Puri Imperium (OPIUM) bertajuk “Proyeksi Desain […]

Pengajar STH Indonesia Jentera Terpilih Menjadi Juru Bicara Komisi Yudisial

Seluruh sivitas akademika Sekolah Tinggi Hukum (STH) Indonesia Jentera mengucapkan selamat atas terpilihnya Miko Ginting […]

Pengajar Jentera Menjadi Ahli dalam Persidangan Penghadangan Kegiatan Tambang untuk Hak Lingkungan

Pengajar Sekolah Tinggi Hukum (STH) Indonesia Jentera, Anugerah Rizki Akbari, menjadi ahli dalam persidangan yang […]