Kabar

Kesalahan Penghukuman: Percakapan dengan Delphine Lourtau

Posted by on 16/12/2019 in Kuliah Tamu

Bidang Studi Hukum Pidana Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera menyelenggarakan diskusi publik berjudul “Wrongful Convictions: A Conversation with Delphine Lourtau” pada Rabu (11/12/2019) di Jakarta. Hadir sebagai narasumber adalah Delphine Lourtau dan Sharon Pia Hickey dari Cornell Center on the Death Penalty Worldwide, Cornell University Law School.

Dalam diskusi tersebut, Delphine dan Sharon berbagi pengalaman mereka meneliti tentang wrongful convictions atau kesalahan penghukuman di enam negara, yaitu Kamerun, Indonesia, Yordania, Malawi, Nigeria, dan Pakistan. Keenam negara ini mewakili berbagai wilayah geografis, tradisi hukum, dan konteks politik. Selain itu, Delphine dan Sharon juga memaparkan tentang kegagalan sistem peradilan pidana serta beberapa studi kasus dari hasil penelitian mereka.

Khusus wilayah Indonesia, studi kasus yang disoroti adalah kesalahan penghukuman yang dialami warga negara Nigeria, Humphrey Jefferson Ejike Eleweke yang ditangkap dan dijatuhi hukuman mati karena kepemilikan narkotika pada Agustus 2003. Ia ditangkap karena bukti palsu dan dipaksa mengakui perbuatannya melalui penyiksaan. Jeff mengalami diskriminasi karena ia adalah imigran Afrika. Dalam putusannya, pengadilan menyatakan bahwa orang kulit hitam dari Nigeria sering diawasi oleh polisi karena sering melakukan transaksi narkotika. Karena Jeff merupakan warga negara Nigeria dan berkulit hitam, maka ia telah membawa dan mencoba menjual narkotika jenis heroin di Indonesia.

Menurut Delphine dan Sharon, kesalahan penghukuman di Indonesia terjadi karena beberapa hal, yaitu tindakan polisi yang melampaui kewenangannya (praktik penyiksaan), pemberian bantuan hukum maupun pemberian informasi terkait hak-hak tersangka/terdakwa/terpidana yang minim dan tidak efektif, korupsi, serta hambatan untuk melakukan peninjauan pasca penghukuman. Khusus untuk proses peradilan menyasar warga negara asing, stereotip dan diskriminasi menjadi faktor penyebab utama timbulnya kesalahan penghukuman di Indonesia.

Kabar

Kepengurusan Baru BEM dan BPM STH Indonesia Jentera Tahun 2020-2021

Kepengurusan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) Sekolah Tinggi Hukum (STH) Indonesia […]

Berkenalan dengan Berbagai Profesi Hukum

Profesi adalah pekerjaan, namun tidak semua pekerjaan adalah profesi. Profesi mempunyai karakteristik sendiri yang membedakannya […]

Kerjasama Jentera-Sekolah.mu Membahas Isu Ketenagakerjaan Di Tengah Pandemi Covid-19

Pengajar Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera, M. Nur Sholikin, menjadi narasumber dalam program Kelas.mu Belajar […]

STH Indonesia Jentera Kembali Menyelenggarakan Kursus Dasar Online tentang Hak Asasi Manusia (HAM)

STH Indonesia Jentera dengan dukungan Yayasan TIFA menyelenggarakan Kursus Dasar Online tentang Hak Asasi Manusia […]

Bincang Jentera Online: Menjaga Mental Tetap Sehat di Tengah Pandemi untuk Mahasiswa Rantau

Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera menyelenggarakan Bincang Jentera Online bertajuk “Menjaga Mental Tetap Sehat di […]

Bincang Jentera Online: Catatan Kebijakan Penanganan Covid-19 pada Sistem Peradilan Pidana

Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera menyelenggarakan Bincang Jentera Online bertajuk “Catatan Kebijakan Penanganan Covid-19 pada […]

Bincang Jentera Online: Memahami Kedaruratan Kesehatan Masyarakat

Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera menyelenggarakan Bincang Jentera Online bertajuk “Memahami Kedaruratan Kesehatan Masyarakat” pada […]

MITIGASI RISIKO DAN PENCEGAHAN PENYEBARAN INFEKSI COVID-19 DI LINGKUNGAN SEKOLAH TINGGI HUKUM INDONESIA JENTERA

Melihat perkembangan situasi terakhir wabah Covid-19 di Indonesia yang telah ditetapkan berstatus pandemi global, Pimpinan […]