Kabar

Kelas Pengantar HAM: Keselarasan antara Ide dan Tindakan

Posted by on 03/05/2016 in Kabar

Kelas Pengantar HAM: Keselarasan antara Ide dan Tindakan

“Apa saja harapan dan ketakutan kalian?” Pertanyaan itulah yang diajukan Usman Hamid untuk mengawali kuliah pengantar Hak Asasi Manusia (HAM) yang merupakan bagian dari kuliah Hukum Tata Negara di Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera. Kemudian, Usman—aktivis HAM yang sedang menyelesaikan studinya di The Australian National University—menegaskan bahwa HAM bisa didefinisikan berdasarkan pengalaman sehari-hari seperti yang baru saja dilakukan mahasiswa. Selain itu, jauh disederhanakan, definisinya juga bisa dilihat dari produk hukum terkait HAM. “Produk hukum merupakan hasil interaksi manusia,” kata Usman.

HAM bukan sesuatu yang terjadi secara otomatis. Itu adalah keselarasan antara sebuah ide dan tindakan. Namun, kenapa masih banyak pelanggaran HAM yang terjadi, pun sudah ada hukum yang mamayunginya? Negara terdiri dari presiden, parlemen, dan pengadilan. Untuk menjalankan HAM dengan baik, semua elemen itu perlu salilng berinteraksi, juga dengan masyarakat. Pun, tidak bisa dipungkiri bahwa masyarakat juga terdiri dari entitas yang beragam. Perlu diingat, “Hukum tidak selalu adil, tergantung siapa yang merumuskannya,” kata Usman ketika sedang bicara dalam kelas tersebut pada Selasa, 3 Mei 2016. Hukum tidak berada dalam ruang yang kosong; pelaksanaannya tergantung siapa yang melakukannya.

Usman menjelaskan bahwa ada nilai-nilai universal yang tidak terpengaruh dengan partikularitas kebudayaan. Apakah ada orang yang berhak untuk disiksa? Penjelasan ini dipancing dari pertanyaan mahasiswa terkait hak masyarakat adat. Usman memaparkan lebih lanjut dengan memberikan contoh-contoh berupa perbandingan. Dari sudut pandang HAM, seseorang yang sudah terbukti membunuh manusia sekalipun tetap harus dijamin hak-hak kehidupannya.

Kontribusi Usman dalam kelas tersebut membangun perspektif HAM bagi mahasiswa. “Setelah ada sesi teori tentang hukum HAM dari Fajri (pengajar mata kuliah Hukum Tata Negara) di awal, perlu ada interaksi dengan orang yang sering melakukan pendampingan. Usman yang punya banyak pengalaman di lapangan bisa membangun perspektif dan teori. Ini bisa bantu mereka dalam mengadakan pameran di akhir kuliah nanti,” kata Bivitri Susanti, pengajar Hukum Tata Negara di STH Indonesia Jentera.

Kabar

Jentera dan KOMPAK Menyelenggarakan Pelatihan Advokasi Kebijakan Publik

STH Indonesia Jentera bekerja sama dengan Kolaborasi Masyarakat dan Pelayanan untuk Kesejahteraan (KOMPAK) menyelenggarakan pelatihan […]

Pengajar Jentera Dilantik Menjadi Hakim Ad Hoc Tipikor Pengadilan Negeri Palangkaraya

Seluruh sivitas akademika Sekolah Tinggi Hukum (STH) Indonesia Jentera mengucapkan selamat atas terpilihnya Muji Kartika […]

Empat Perguruan Tinggi Hukum Menyerahkan Prosiding Konsultasi Nasional Pembaruan KUHP 2021 pada Kementerian Hukum dan HAM RI dan Tim Perumus RKUHP

Pusat Studi Kebijakan Kriminal Universitas Padjadjaran, Pusat Pengembangan Riset Sistem Peradilan Pidana (PERSADA) Universitas Brawijaya, […]

Jentera Jalin Kerja Sama dengan SBM ITB

Sekolah Tinggi Hukum (STH) Indonesia Jentera menandatangani Perjanjian Nota Kesepahaman dengan Sekolah Bisnis dan Manajamen […]

Jentera bersama BI Menyelenggarakan Pelatihan Hukum Siber dan Keuangan Digital

STH Indonesia Jentera bekerja sama dengan Bank Indonesia menyelenggarakan pelatihan bertajuk “Hukum Siber dan Keuangan […]

Memahami Permasalahan Kelompok Rentan Berhadapan dengan Hukum

Kondisi buruk kerap dihadapi anak-anak saat berhadapan dengan hukum dalam posisi sebagai tersangka atau terdakwa. […]

Pentingnya Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) bagi Organisasi

Pemahaman perihal tindak korupsi menjadi hal yang penting sebagai salah satu upaya pemberantasan korupsi itu […]

Jentera dan SMAS Citra Kasih Jakarta Selenggarakan Diskusi terkait Bullying

Merujuk data U.S. Department of Health and Human, perilaku bullying atau perisakan dalam bahasa Indonesia, […]