Kabar

Hukum bukan Opini, Perlu Metode Penafsiran yang Jelas

Posted by on 20/04/2016 in Kabar

Bagaimana cara membangun rumah? Itulah pertanyaan yang diajukan Mark Cammack ketika memulai workshop The Element of Intent in Criminal Law di STH Indonesia Jentera pada 20 April 2016. Pertanyaannya dilanjutkan: Apakah perlu batu bata? Apakah perlu paku? Apakah perlu tomat? Mahasiswa tertawa mendengar pertanyaan yang terakhir. Itu merupakan perumpaan yang digunakan untuk membangun argumentasi hukum. Relevansi menjadi begitu penting. Ada beberapa hal yang perlu dijadikan pedoman, yaitu interpretasi teks dan analisis kasus. Dalam interpretasi teks, perlu diperhatikan soal diksi dan juga sejarah terbentuknya peraturan itu.

Mark Cammack, professor di Southwestern Law School yang menekuni hukum perbandingan dan sistem legal Indonesia, menampilkan satu peraturan di lingkungan kampus. “ Hanya untuk pejalan kaki! Sepeda tidak boleh,” begitu tulisannya. Kemudian, ada pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Apakah seseorang yang sedang berjalan kaki dan menuntun sepeda diperbolehkan? Apakah seseorang yang menggunakan scooter diperbolehkan? Apakah becak diperbolehkan? Apakah sepeda yang ditaruh di bagian belakang mobil diperbolehkan? Diskusi di dalam kelas semakin menghangat. Cammack memberikan beberapa contoh lain, seperti peraturan terkait kesusilaan di Indonesia. Kemudian, ia membandingkannya dengan kasus kesusilaan di Iowa. Hakim di Iowa memberikan putusan dengan menilik kembali tujuan terbentuknya peraturan itu. Itulah yang dijadikan alat analisis. Dalam mendiskusikan contoh-contoh kasus, Mark membedah unsur-unsur dalam delik itu, khususnya unsur kesengajaan.

Sistem hukum tidak akan bisa menjawab semua pertanyaan hukum, tetapi pasti ada benang merah berupa pemahaman bersama yang menjadi alat analisis untuk memberikan jawaban. Permasalahannya, di Indonesia, hakim-hakim hanya mengeluarkan opini, tetapi tidak memberikan rujukan yang mendasari opininya itu. Tidak terlihat ada metodologi dalam menafsirkan hukum yang diterapkan di Indonesia. “ Kalau hukum tergantung pada orang (hakim), itu bukan hukum. Semestinya, hukum itu berlaku sama untuk semua orang. Untuk itu, diperlukan metodologi penafsiran yang jelas,” tegas Cammack.

Sebagai penutup, ia mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara hukum tanpa hukum. Permasalahan yang terjadi di Indonesia tidak bisa diselesaikan melalui penunjukan hakim yang jujur dan berkemampuan mumpuni, pun itu memang tetap perlu dilakukan. Namun, sistem yang cakap untuk jadi panduan dalam menginterpretasikan dan mengaplikasikan hukum jauh lebih penting. Selesai workshop, Marta—mahasiswa STH Indonesia Jentera—mengatakan begitu menikmati workshop itu, “ Apalagi, dia suka kasih contoh-contoh dan perbandingan dari negaranya.” Workshoplepas macam ini memang diadakan STH Indonesia Jentera untuk menjadi wadah untuk berbagi pengetahuan.

Kabar

Call For Paper Jentera: Jurnal Hukum Edisi Vol. 4 No. 2 (2021)

Jentera bertujuan memfasilitasi dan mendorong pembaruan hukum dan kebijakan di Indonesia, mempublikasikan kajian-kajian bidang hukum […]

Mahasiswa Jentera Terpilih Mengikuti IISMA 2021 di Michigan State University

Mahasiswa Jentera Angkatan IV, Aisyah Assyifa terpilih menjadi salah satu peserta Indonesian International Student Mobility […]

Pengajar Jentera Menjadi Ahli dalam Gugatan Tata Usaha Negara ke Kepala BNN

Pengajar Sekolah Tinggi Hukum (STH) Indonesia Jentera, Anugerah Rizki Akbari, menjadi ahli dalam sidang yang […]

Berbisnis di Tengah Kekacauan Hukum: Legalisme Iliberal di Indonesia

Berbisnis di tengah kekacauan hukum: Legalisme iliberal di Indonesia merupakan penelitian yang berangkat dari situasi […]

Perlunya Reformasi Sistem Peradilan Pidana untuk Mengatasi Overcrowding Lapas

Beberapa saat yang lalu kita dikejutkan oleh pemberitaan mengenai kebakaran di Lapas Kelas 1 Tangerang […]

Tantangan Tata Kelola Pemerintahahan Daerah di Masa Pandemi

  Selama satu setengah tahun terakhir, banyak pemerintah daerah yang harus bekerja lebih keras dalam […]

Jentera Sambut Mahasiswa Baru dengan Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus

STH Indonesia Jentera menyelenggarakan Orientasi Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2021/2020 pada 13-15 September 2021 secara […]

Orasi Ilmiah: Quo Vadis Kebebasan Akademik dan Tanggung Jawab Intelektual

Kebebasan berpikir, kebebasan akademik, dan kebebasan berpendapat merupakan hak universal dan penanda utama eksistensi kaum […]