Wrongful Convictions: A Conversation with Delphine Lourtau

Masih ingat kasus Craig Coley di Amerika Serikat? Craig Coley dibebaskan dari penjara Simi Valey, California setelah mendekam selama 39 tahun atas pembunuhan yang ternyata tidak pernah dilakukannya. Coley akhirnya mendapatkan ganti rugi senilai Rp 294 miliar atas kekeliruan penghukuman yang dilakukan pengadilan.

Keadaan yang dialami Coley juga banyak terjadi di Indonesia. Pada 2014, Dedi, seorang supir ojek harus berhadapan dengan proses hukum karena dituduh membunuh M. Ronal yang merupakan sopir angkutan umum. Dedi yang tidak terlibat pembunuhan justru ditangkap dan diadili oleh PN Jakarta Timur pada tahun 2015 serta divonis dua tahun pidana penjara. Di tingkat banding, Dedi yang telah menjalani hukuman selama sepuluh bulan, kemudian dinyatakan tak bersalah oleh Pengadilan Tinggi DKI Jakarta.

Masyarakat juga pasti mengingat nama Yusman Telaumbanua. Pemuda asal Nias ini bahkan nyaris kehilangan nyawanya karena pengadilan menyatakan dirinya sebagai pelaku pembunuhan berencana. Beruntung bagi Yusman, bukti baru muncul ke hadapan hakim agung yang membuktikan usianya baru 17 tahun ketika dituduh melakukan kejahatan tersebut. Meski berhasil lolos dari jerat hukuman mati, Yusman tetap divonis lima tahun penjara oleh Mahkamah Agung.

Untuk mendiskusikan kompleksitas dan dinamika kesalahan penghukuman tersebut, STH Indonesia Jentera menyelenggarakan diskusi Wrongful Convictions: A Conversation with Delphine Lourtau (Executive Director of the Center on the Death Penalty Worldwide, Cornel University).

Kegiatan ini akan diselenggarakan pada:
Hari & Tanggal: Rabu, 11 Desember 2019
Pukul: 10.00-12.00 WIB
Tempat:
Lounge STH Indonesia Jentera, Puri Imperium Office Plaza, Upper Ground Floor, UG. 11-16, Jalan Kuningan Madya Kav. 5-6, Jakarta Selatan, 12980

Info pendaftaran dapat diakses melalui Astria di 0811-977-2070 (Telpon/WhatsApp) atau info@jentera.ac.id. Acara gratis dan terbuka untuk umum